Berkah, yang terbaik dari Allah
Adalah berkah, saat tim trans TV menelponku untuk sesi psikotest. Adalah berkah saat aku kehabisan tiket pesawat saat harus berada di jakarta tepat waktu. Adalah berkah, ketika seorang dosen datang, dan mengabarkan bahwa “Kemungkinan kamu diterima ada, tetapi keciiiiiiiiiiil”, katanya sambil mengacungkan kelingkingnya. Aku cukup menghargai beliau, karena sudah seperti ayahku sendiri. Apa yang dikatakannya adalah nasihat, supaya aku tidak terlalu berharap akan pekerjaan ini.
Aku sadar, aku hanya lulusan S1 dari ilmu murni, bukan pendidikan guru. Aku cukup mengerti jika aku tidak akan diterima karena aku tidak punya cukup pengalaman mengajar. Akhirnya aku pun dengan lantang menjawab “Tidak apa-apa Pak! Jika memang saya diterima, saya berucap syukur alhamdulillah, jika tidak, saya akan cukup berlapang dada. Karena saya percaya, di luar sana masih banyak bumi Allah yang penuh berkah yang bisa saya kerjakan”.
Adalah berkah, ketika seminggu kemudian orang yang sama mengabariku bahwa aku diterima bekerja di perguruan tinggi ini. Akhirnya kuucap syukur Alhamdulillah. Sore harinya, beliau menelponku “Nduk, sekarang bisa datang ke kampus ya, menemui Pak John!”
Sore hari waktu itu, sekitar pukul 17.00 aku mencari Pak John, akhirnya kudapati juga beliau, yang ternyata ketua STKIP, atau setingkat rektor jika di Universitas. Kupikir aku akan diwawancara ini itu. Ternyata beliau hanya bilang “Pada dasarnya Anda telah diterima mengajar di sini. Hanya saja status Anda masih asdos karena Jurusan Pendidikan Biologi masih merupakan cabang dari STKIP Jember. Masalah gaji jangan terlalu dipikirkan dulu lah! Sekarang pengabdian dulu! Mungkin, sekian dulu, saya masih ada kesibukan di luar.”
Subhanallah, betapa kagetnya aku hari itu. Diterima kerja, tanpa wawancara. Padahal kabarnya, beberapa orang yang juga melamar di sana sudah berpengalaman mengajar beberapa tahun. Adalah berkah, bahwa Allah telah memilihku untuk mengamalkan ilmuku di tanah kelahiranku sendiri. Adalah berkah, bahwa Allah telah memilihku, untuk tinggal di sini, entah untuk berapa lama, untuk memajukan putra daerah, saudara-saudaraku sendiri.
Terima kasih Ya Allah! Untuk berkah-berkah ini. Adalah berkah terbaik, yang selalu Kau berikan.
Maka nikmat Allah yang manakah yang kau dustakan?