wina_dian

special heart from me, maybe inspired you to be a stronger people

Berkah, yang terbaik dari Allah

Adalah berkah, saat tim trans TV menelponku untuk sesi psikotest. Adalah berkah saat aku kehabisan tiket pesawat saat harus berada di jakarta tepat waktu. Adalah berkah, ketika seorang dosen datang, dan mengabarkan bahwa “Kemungkinan kamu diterima ada, tetapi keciiiiiiiiiiil”, katanya sambil mengacungkan kelingkingnya. Aku cukup menghargai beliau, karena sudah seperti ayahku sendiri. Apa yang dikatakannya adalah nasihat, supaya aku tidak terlalu berharap akan pekerjaan ini.

Aku sadar, aku hanya lulusan S1 dari ilmu murni, bukan pendidikan guru. Aku cukup mengerti jika aku tidak akan diterima karena aku tidak punya cukup pengalaman mengajar. Akhirnya aku pun dengan lantang menjawab “Tidak apa-apa Pak! Jika memang saya diterima, saya berucap syukur alhamdulillah, jika tidak, saya akan cukup berlapang dada. Karena saya percaya, di luar sana masih banyak bumi Allah yang penuh berkah yang bisa saya kerjakan”.

Adalah berkah, ketika seminggu kemudian orang yang sama mengabariku bahwa aku diterima bekerja di perguruan tinggi ini. Akhirnya kuucap syukur Alhamdulillah. Sore harinya, beliau menelponku “Nduk, sekarang bisa datang ke kampus ya, menemui Pak John!”

Sore hari waktu itu, sekitar pukul 17.00 aku mencari Pak John, akhirnya kudapati juga beliau, yang ternyata ketua STKIP, atau setingkat rektor jika di Universitas. Kupikir aku akan diwawancara ini itu. Ternyata beliau hanya bilang “Pada dasarnya Anda telah diterima mengajar di sini. Hanya saja status Anda masih asdos karena Jurusan Pendidikan Biologi masih merupakan cabang dari STKIP Jember. Masalah gaji jangan terlalu dipikirkan dulu lah! Sekarang pengabdian dulu! Mungkin, sekian dulu, saya masih ada kesibukan di luar.”

Subhanallah, betapa kagetnya aku hari itu. Diterima kerja, tanpa wawancara. Padahal kabarnya, beberapa orang yang juga melamar di sana sudah berpengalaman mengajar beberapa tahun. Adalah berkah, bahwa Allah telah memilihku untuk mengamalkan ilmuku di tanah kelahiranku sendiri. Adalah berkah, bahwa Allah telah memilihku, untuk tinggal di sini, entah untuk berapa lama, untuk memajukan putra daerah, saudara-saudaraku sendiri.

Terima kasih Ya Allah! Untuk berkah-berkah ini. Adalah berkah terbaik, yang selalu Kau berikan.

Maka nikmat Allah yang manakah yang kau dustakan?

Jakarta, 5-7 Desember 2008

Sejak hari Jumat sore, aku dan seluruh keluarga Bekasi hijrah ke Jakarta di rumah kakak ipar kakakku. Si tuan rumah akan berlebaran di kampung, jadi rumah itu dititipkan pada kami. Sabtu pagi, mereka sudah berangkat ke bandara. Dan di rumah gede itu tinggallah aku, kakak, kakak ipar, keponakanku, dan seorang pembantu. Hari Minggu pagi kami merencanakan bersilaturahim ke rumah saudara-saudara di Pondok Gede. Dengan usaha yang melelahkan akhirnya sampai juga kami ke rumah dua saudara kami di kawasan Pondok Gede. Senang juga bertemu mereka. Yang satu baru melahirkan. Jadi di rumahnya ada seorang bayi yang lucu dan ganteng. Yang satu lagi punya peternakan koi yang terkenal. Wah ikan koinya besar-besar dan warnanya cerah keemasan.

Pukul 13.00 kami baru sampai di Jakarta. Ah, capek sekali. Sore harinya kakak mengantarkan kakak iparku ke pasar untuk berbelanja. Malamnya, kami memasak opor ayam.

Jakarta, 8 Desember 2008 (Hari Raya Idul Adha 1429 H)

Jam 4 pagi kami sudah bangun. Ahsyaf si keponakan awalnya agak rewel dibangunkan. Tapi dengan sedikit bujukan, ibunya bisa juga meluluhkan hatinya. Jam 5 semuanya sudah siap berangkat ke masjid. Kakak bilang kali ini kami akan shalat di At-Tin di Taman Mini. Sebenarnya ada dua mobil menganggur di garasi, tetapi kakak tidak mau membawa mobil. ”Ah, kita naik motor saja”, katanya. Kebetulan ada dua motor di sana. Kakak langsung menyerahkan satu kunci motornya padaku. Ragu-ragu kuterima juga kunci motor itu. Ini PERTAMA KALI AKU BERMOTOR DI JAKARTA. Lalu aku meminta helm pada kakak. ”Nggak perlu pake helm, polisi juga tahu kalo kita mau shalat di masjid”. Tanganku mulai dingin. Grogi aku. Bagaimana tidak, AKU TAK PUNYA SIM, dan STNK motor ini TERBAWA saudara ke Serang. Jadi motor yang akan kusetir sendiri ini KOSONGAN.

Bismillahi tawakkaltu ’alallah. Akhirnya kuberanikan diri juga naik motor. Jalanan masih agak sepi. Aku, yang tanpa helm, tanpa SIM, dan tanpa STNK menoleh kiri kanan. Aman, tak ada polisi. Orang-orang yang melalui kami kadang menoleh memperhatikan. Aku cuek saja. Pikirku, kalau ada apa-apa di jalan, toh ada kakakku. Hehe..lagi pula pemilik motor ini adalah polisi. Pangkatnya juga nggak main-main. AKBP. Hehe. Serem kan?

Di jalan ada juga orang yang berniat iseng padaku. Dengan sengaja, dua orang lelaki itu memepetkan motornya padaku. Hmm, dia belum tahu, di depanku ada kakakku. Mungkin mereka pikir aku sendirian. Lama-lama mereka tahu juga, dan pergi sambil memencet bel berkali-kali. Ih, dasar jahil!

Masjid At-Tin memang indah. Pagi itu masjid mulai dipenuhi jemaah. Kakak dan kakak iparku langsung masuk ke dalam masjid, sedangkan aku duduk di halaman masjid, di kursi di dekat shaf jamaah wanita. Tak ada satupun orang di sana. Beberapa menit berlalu, penuh juga akhirnya shaf wanita di halaman masjid. Kursi di kanan kiriku yang awalnya kosong, akhirnya diisi oleh seorang ibu dan seorang wanita berumur 25-an. Ternyata mereka senasib denganku, tak shalat. Shalat Ied berlangsung lancar, tetapi ada juga teriakan dan tangisan bayi-bayi yang ditinggal ibunya shalat. Hmmm, lucu juga memperhatikan mereka yang tak diacuhkan ibunya sendiri.

Tibalah masa khutbah. Sang khatib mulai membacakan khutbahnya. Tetapi ada keributan di depanku, suasana jadi riuh. Suara khatib tak lagi bisa didengar. Ibu di sebelahku mulai beranjak dan mencari tahu. ”Kenapa ya?”, katanya. ”Mungkin pingsan Bu”, jawabku asal. Si ibu menimpali lagi ”Tapi kok begitu ya? Kok saling tarik jilbab begitu? Mungkin istri muda sama istri tua kali ya?” Aku tersenyum ”Bisa jadi si Bu….”

Suasana semakin tak terkendali. Sebagian jamaah laki-laki yang awalnya duduk tenang di lorong masjid ikut berdiri. Ada yang berteriak, ada yang malah asyik memfoto-foto, ada juga yang merekam kejadian itu. Beberapa satpam berdatangan, berusaha melerai kedua perempuan yang semakin menjadi-jadi. Benar saja, ibu-ibu yang melewati kami memberi kami info. ”Itu, istri muda sama istri tua ketemu!”

”Tuh kan benar yang saya bilang tadi”, katanya. Agak ngeri juga sih, tapi akhirnya aku percaya juga. ”Kok bisa-bisanya itu mereka bisa ketemu, padahal tempatnya luas begini. Mungkin sudah kehendak Allah ya!”

”Iya Bu, kehendak Allah.” kali ini aku menjawab dengan mantap.

”Kok ribut-ributnya di sini sih, malu-maluin aja. Habis shalat ini, khutbah juga belum selesai. Ditahan dulu marahnya, nanti di luar saja kalo mau ribut.” si ibu kembali menimpali. Aku hanya bisa mengangguk.

Baru pertama kali aku ke sini. Eh dapat cerita lucu. Ternyata bukan cuma aku yang baru pertama kali. Beberapa ibu yang melewati kami tiba-tiba bersalaman kepada kami dan bilang ”Saya baru pertama shalat di sini, saya ini orang Padang lho! Eh nggak taunya dapat cerita buat oleh-oleh.” Nah lho? Ah, masjid At-Tin memang penuh kenangan.

Semoga ada hikmah di balik cerita ini dan dapat diambil ibrahnya.

Bekasi, 4 Desember 2008

Pengumuman Final DKP

Pagi itu aku bermimpi indah sekali, setidaknya membuatku sedikit tenang. Di dalam mimpi aku membaca pengumuman DKP, ada namaku di antara ratusan peserta yang lolos. Tetapi agak aneh memang karena penempatanku tidak sama seperti penempatan formasi yang kulamar. Di sana tertulis Maros, Sulawesi Selatan, padahal aku melamar penempatan di Balai Riset Perikanan Laut Jakarta.

Ayahku juga menelponku dan mengabarkan bahwa pagi ini beliau bermimpi bagus. ”InsyaAllah kamu diterima Nduk!” katanya. Hmmm, kuamini saja. Seperti pengumuman yang lalu-lalu, biasanya selepas maghrib baru dipublikasikan.

Tiba juga waktu maghrib, pengumuman itu memang sudah di-publish, bisa aku cek di Hp. Tetapi nama-nama peserta yang lolos ditulis pada format pdf sehingga aku harus tetap ke warnet. Kira-kira pukul 19.00 aku ke warnet. Di langit Bekasi kilat sudah menyambar-nyambar. Sebenarnya agak ngeri juga mau keluar malam begini. Tetapi mengingat orang tua dan teman-teman sudah tidak sabar ingin tahu hasilnya, aku beranikan diri juga ke warnet.

Meskipun agak bermasalah, akhirnya bisa juga aku masuk ke situs DKP. Kucari abjad W………Wihelmus Wiranata, Wingking Era Rintaka Siwi. Setelah huruf h langsung n. Berarti tak ada nama Wina. Yah aku tidak lolos. Namun aku sudah siap dengan keadaan yang terburuk, jadi tak perlu kupermasalahkan. Yang kupikirkan hanya bagaimana caranya menyampaikan kenyataan ini kepada ayah, karena beliau pasti kecewa. Setelah beberapa menit di warnet, aku pulang. Hujan disertai kilat menyambar-nyambar seperti mengerti hatiku yang sedang kalut. Sampai di rumah aku segera menghubungi ayah. Kucoba mengatakannya pelan-pelan. Awalnya beliau amat kecewa, tetapi akhirnya nrimo juga. ”Mungkin belum saatnya, Allah punya rencana yang lebih baik buat Wina.” katanya. Hatiku jadi adem. Thank You Allah!

”Aku meminta setangkai bunga yang segar, Allah memberiku kaktus berduri. Aku meminta kupu-kupu yang cantik, Allah memberiku ulat berbulu.Aku sedih dan kecewa. Namun kemudian kaktus itu berbunga indah sekali, dan ulat itu menjadi kupu-kupu yang cantik. Itulah jalan Allah, indah pada waktunya. Allah tidak memberi apa yang aku minta, Allah memberi apa yang aku butuhkan. Kadang aku sedih, kecewa, terluka. Tetapi jauh di atas segalanya, Allah sedang merajut rencana terindah untuk kehidupanku.”

28 November 2008

Semua peserta DKP yang lolos ujian tulis, wajib mengikuti ujian wawancara. Untuk pertama kalinya pagi ini aku berangkat sendiri ke Jakarta dari Bekasi. Kakakku yang biasanya berangkat bersamaku, mengambil cuti beberapa hari untuk mengantarkan Budhe pulang kampung. Alhasil, aku hampir terlambat! Di jalan menuju Pasar Minggu kendaraan serasa merambat, kadang berhenti untuk beberapa menit. Hmmm, sabar!sabar! Aku menghibur diri sendiri. Di pangkalan ojek aku turun. Tetapi, malang sekali nasibku, tak ada seorang pun ojek di sana. Ah, aku harus menuju pangkalan ojek berikutnya. Setelah beberapa lama berjalan kaki, aku kembali mencegat angkot yang lewat. Di pangkalan ojek berikutnya, alhamdulillah aku segera mendapatkan ojek.

Setengah berlari aku menuju Aula STP yang dikerumuni orang. Aku segera mencari nama dan nomor urutku di kertas yang ditempel pada dinding aula. Setelah sekian lama berdempet-dempet dengan peserta yang lain, kudapatkan juga namaku.

No. Urut

No. Peserta

Nama Peserta

Meja

94

05178 2 33 07 1

Wina Dian Savitri

7

Aku segera masuk ke dalam Aula, kucek satu persatu puluhan meja di sana. Tak ada satupun yang bernomor tujuh. Belakangan aku tahu nomor urut 7-13 letaknya di Gedung Kapal lantai 2. Segera aku menuju Gedung Kapal yang letaknya persis di sebelah utara Aula STP. Astaghfirullahal’adzim…..kondisinya penuh sesak. Ada 3 ruangan tempat wawancara. Semua peserta duduk di lorong sempit di luar ruangan. Iseng-iseng ada juga yang nyeletuk ”Kita ini kayak korban banjir ajah”. Semua yang mendengar tertawa juga akhirnya.

Satu persatu peserta mulai dipanggil dan diwawancara. Tetapi tidak juga tiba giliranku. Sampai masa shalat Jumat tiba, baru 4 peserta yang dipanggil wawancara di meja 7. Sampai adzan ashar berkumandang, namaku belum juga disebut. Kami yang tersisa mulai bosan dan capek. Aku memutuskan untuk shalat ashar di masjid yang jaraknya kira-kira 100 meter dari Gedung Kapal. Sebenarnya bisa saja aku shalat di mushalla terdekat. Tetapi kini tempat itu sudah diduduki peserta laki-laki.

Dalam sujudku aku pasrah, tunduk, tawakkal pada ketetapan Allah yang akan terjadi padaku. Ada hal yang mengganjal di hatiku. Hari sudah beranjak sore, sedangkan Hp ku sudah mati, tak bisa kunyalakan lagi. Orang rumah pasti khawatir padaku. Dan satu lagi, perjalanan Jakarta-Bekasi lumayan lama, sekitar 2 jam.

Setelah shalat aku kembali ke Gedung Kapal. Seorang teman yang sama-sama berabjad awal W dan di meja 7 bilang padaku. ”Meja tujuh ini memang agak spesial, satu orang peserta wawancara di meja 7 menghabiskan waktu 45 menit sampai 1 jam. Mungkin karena jabatan yang dilamar peneliti”. Hmmm, lama sekali. Salawat terus aku lantunkan di dalam hati. Sementara peserta di meja yang lain sudah mulai habis.

Kira-kira pukul 18.00 WIB, akhirnya tiba giliranku. Segera kuserahkan berkas ke panitia. Si Bapak panitia yang mewawancaraiku memberiku beberapa lembar isian wawancara. ”Ini, diisi ya!” katanya. Sambil bertanya seputar nama dan riwayat hidup, Si Bapak membiarkan aku mengisi isian wawancara itu dengan tenang. Bapak ini lumayan berbadan besar dan berkulit gelap. Sebelumnya kukira dia akan mewawancaraiku dengan model killer, tetapi ternyata dia ramah. Aku mencoba menyelesaikannya dengan cepat. Sementara di sebelahku, teman W-ku juga mengisi lembar yang sama. Tetapi caranya mengisi yang panjang lebar, membuat Bapak panitia yang mewawancarainya tidak sabar. ”Ah, kamu lama banget ngisinya, kita ngobrol-ngobrol aja ya!”, ujar bapak berkulit kuning dan berbadan kurus itu.

Setelah kuisi dengan lengkap, kuserahkan daftar pertanyaan itu kepada panitia. Tanpa kuduga sebelumnya, Bapak ini berkata ”Mmm, karena isiannya sudah lengkap, saya rasa wawancara kita sudah selesai, semoga kamu merupakan salah satu dari peserta yang lolos menjadi cpns.”

Hatiku serasa disiram air es. Sejuuuuk sekali! Seraya mengucapkan terima kasih aku segera kabur. Aku berlari sekuat tenaga menuju pintu gerbang STP. Dengan menumpang ojek, tiba juga aku di Pasar Minggu. Angkot S15A yang kutunggu tak juga datang. Kembali kutenangkan hati ini, sementara adzan Isya’ sudah mulai terdengar. Kuputuskan untuk berjalan ke arah pasar, siapa tahu di sana ada S15A yang belum berangkat. Tak lama, S15A datang melewatiku. Alhamdulillah….. Setibanya di Pasar Rebo aku menyebrang jalan yang cukup ramai dan membingungkan itu. Aku gambling saja, entah bus yang akan mengantarkanku ke Terminal Cikarang masih ada atau tidak. Rencana B-ku jika sudah tak ada bus, aku akan menumpang di rumah saudara kakak iparku di Jakarta.

Hamdalah berulang kali kuucapkan, saat bus terakhir jurusan Jakarta-Cikarang belum berangkat. Di tengah perjalanan aku diam saja. Masih terpikir di benakku bagaimana kakak iparku yang bingung mencariku. Kira-kira jam 22.00 aku baru sampai di rumah. Benar saja, semua cerita kekhawatiran kakak iparku mengalir. Hp segera aku charge, ibuku menelpon sambil menangis. Rupanya berita bahwa aku belum pulang, sampai juga ke telinga keluargaku di kampung.

Tak bisa kubayangkan bagaimana jika wawancaraku juga berlangsung 45 menit sampai 1 jam seperti peserta yang lain. Besar kemungkinan aku tidak bisa pulang ke Bekasi. Ah, rencana Allah memang selalu indah. DKP…oh DKP. Semoga perjuangan ini berbuah manis.

Jakarta, 27 November 2008

Sebelum masuk ruangan ujian

Ujian tulis Deptan. Ujian yang berlokasi di Jakarta bertempat di dua tempat: 1. Galanggang Remaja Ragunan. 2. Ditjen Perkebunan Deptan. Kebetulan semua peserta S1 yang namanya berhuruf abjad N-Z ditempatkan di Galanggang Remaja Ragunan, sehingga aku bisa jadi bertemu lagi dengan akhwat itu.

Jika kuperhatikan jam, hari ini perjalanan lancar sekali. Aku tiba di lokasi ujian pukul 07.20, itu pun dengan tampang heran karena peserta yang hadir sudah membludak. Sementara ujian akan dimulai pada pulul 09.00. Aku langsung mencari tempat duduk yang nyaman, agak sulit memang, tetapi ada sedikit celah di antara sekian banyak peserta yang duduk. Kumanfaatkan saja tempat itu. Hp sengaja ku-silent agar tidak mengganggu konsentrasi belajar. Sejenak kemudian seorang ibu duduk di sebelahku. Awalnya aku cuek saja, semakin lama aku merasa ibu itu juga nimbrung membaca buku yang kubaca. Lalu aku menoleh kepadanya. Yah, seperti nasib kaum hawa yang lain jika bertemu. Kami segera berkenalan dan Si Ibu tak berhenti bercerita.

Tak lama, seorang akhwat menyapaku ”Assalamu’alaikum!”. ”Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh!” Kujawab salamnya dengan lengkap seraya bersalaman. Aku tersenyum, akhwat itu lagi. Ternyata kami memang bertemu lagi. ”Mm..Kau baca sms-ku tak?” tanyanya dengan logat aneh. ”Yah, Hp aku silent, maaf ya!”. Kukenalkan akhwat itu dengan ibu di sebelahku. Kami bertiga terlibat percakapan yang mengagumkan!

”Kalian pasti baru lulus ya! Kelihatan banget nih, jilbabnya masih lebar-lebar!”

Kami saling tersenyum. Bisa kupastikan Si Ibu ini mantan aktivis dakwah.

”Kalau sudah berkeluarga atau di dunia kerja, idealisme itu akan luntur. Saya sih masih untung setia pakai rok, tidak sampai pakai kulot (celana), cuma jilbabnya aja yang agak sempit”. Ujarnya lagi seraya tersenyum.

Sahabat baruku itu ramah sekali. Dia menanggapi setiap pernyataan Si Ibu dengan serius dan membalasnya dengan pertanyaan-pertanyaan lucu. Kadang terdengar tawa diantara keduanya. Aku memilih untuk diam. Di dalam hati aku bergumam ”Ah, hidayah memang indah, tetapi masihkah kita sanggup mempertahankannya ketika idealisme sudah luntur?”.

Masuk ruangan ujian

Pukul 09.00, pintu Galanggang Remaja dibuka. Peserta berjubel mengantri masuk ke dalam ruangan. Peserta dibebaskan memilih tempat duduk karena panitia tidak sempat menempel nomor peserta. Aku memutuskan berpisah dengan kedua temanku karena aku sudah bisa memprediksi bagaimana keadaannya saat kami duduk bertiga bersebelahan. Aku memilih tempat yang paling depan, di depan meja panitia. Di sebelahku seorang ibu tengah belajar, tampaknya dia sangat serius.

Setelah semua peserta menduduki kursinya, panitia segera menyampaikan sambutan-sambutan. Kau mau tahu apa yang terjadi pada ibu di sebelahku? Dia mengantuk, dan…tertidur! Beberapa pasang mata memandang ke arahnya. Ah, barangkali tadi malam dia tidak tidur karena belajar, pikirku. Semua sambutan telah dibacakan, panitia mulai membacakan tata-tertib peserta ujian. Alhamdulillah, ibu di sampingku bangun.

”Peserta wajib membawa papan jalan dan pensil 2B asli ” begitu kira-kira bunyi salah satu tata-tertibnya. Ibu di sebelahku mulai gelisah, dia menoleh ke arahku dan bertanya ”Emangnya kemarin kita disuruh bawa papan jalan? Ada pengumuman seperti itu ya?”

”Ada, Bu! Kursi kita kan gak ada mejanya, untuk memudahkan mengisi LJK, kita harus bawa papan jalan.”

”Wah, gimana nih saya gak bawa.”

”Di luar tadi saya lihat banyak yang jual, Bu! Mumpung belum dimulai ujiannya”, saranku.

”Nggak ah, saya pinjem tutup kardus panitia saja”, katanya.

Kemudian dia bertanya lagi. ”Pensil 2B asli itu yang kayak gimana sih? Yang ini 2B juga bukan ya?”, tanyanya sambil menunjukkan pensil butut Faber Castle berbentuk prisma.

”Wah, saya juga nggak tahu Bu!”, jawabku.

”Kamu punya pensil 2B lagi nggak? Aku pinjam ya! Dasar nih, mau ujian cuek banget sih”, katanya.

”Maaf Bu, saya hanya punya satu”, selintas kulihat kecewa di wajahnya.

Akhirnya Si Ibu mendapat pinjaman pensil dari peserta di sebelah kanannya. Ah, aku jadi tertawa di dalam hati. Dulu aku sempat berfikir aku ini makhluk Allah yang paling cuek sedunia (berlebihan ya?hehe..). Eh, gak disangka masih ada orang yang lebih cuek lagi. Subhanallah, Maha Suci Allah yang menciptakan manusia dengan beraneka ragam karakternya.

Jakarta, 26 November 2008

Hari ini aku harus mengambil kartu ujian di daerah Ragunan. Dari Pasar Rebo aku langsung mencegat S15A. Tepat di depan tempat dudukku ada seorang akhwat cantik berpakaian serba hijau. Awalnya kami hanya saling berpandangan, tak ada senyum. Jaim kali ya? Melihat barang-barang yang dibawanya, aku segera mengira bahwa akhwat ini menuju tempat yang sama dengan tujuanku. Kutebak lagi, dia juga lulusan S1 karena map yang dibawanya berwarna kuning.

Lamanya perjalanan karena macet membuat seisi angkot terkantuk-kantuk. Tetapi tidak denganku. Aku sangat khawatir akan terlambat sampai di tujuan, sementara jarum jam sudah semakin mengarah ke pukul 08.00. Selintas kuperhatikan juga akhwat itu dengan ekor mataku saat aku menunduk. Ups, akhwat itu juga memperhatikanku. Dia menyelidikiku dari jilbab sampai ujung kaus kaki. Tetapi pandangannya berhenti sejenak di pergelangan tanganku. Ya, kurasa dia mulai meragukanku, karena aku tidak memakai deker. Haha..aku tertawa di dalam hati.

Beberapa menit berlalu, angkot ini sampai juga di daerah Pasar Minggu. Sebenarnya aku belum tahu pasti di mana tempat tujuanku. Hanya saja aku yakin sekali tempatnya di dekat Ragunan. Akibatnya, setiap ada tulisan yang berbau Departemen Pertanian, aku langsung menoleh mencoba membaca plang yang terpampang. Saat angkot berbelok, di sudut jalan ada tulisan ”Ditjen Holtikultura Departemen Pertanian”. Aku menoleh, dan akhwat itu pun menoleh. Aha…kini aku yakin, akhwat ini punya tujuan yang sama denganku. Lalu kuberanikan diri berseru ”Mau daftar ulang deptan ya?”. Dia tersenyum, ”Iya, di sini kan tempatnya?”.

”Bukan! Di jalan Harsono no. 3, di daerah Ragunan. Sepertinya masih lumayan jauh. Nama tempatnya Ditjen Perkebunan, bukan Ditjen Holtikultura.”

”Oh, aku gak hafal alamatnya soalnya, ntar kita bareng aja ya!” ujarnya seraya tersenyum.

Dan ceritapun mengalir di antara kami. Ah, awal yang indah untuk sebuah persahabatan ukhty. Kami bersama sampai pulang kembali dari deptan.

Bekasi, 25 November 2008

Pengumuman lolos ujian tulis DKP. Aku tidak terlalu ngoyo ke warnet untuk melihat pengumuman. Biasanya DKP sering terlambat mempublikasikan setiap pengumuman. Benar saja, aku cek di Hp berulang kali, baru maghrib pengumuman itu di-publish. Ada senang dan sedihnya. Senang karena aku lolos ujian tulis. Sedih karena sahabat seperjuanganku tidak lolos.

Siapa Bilang Akhwat Tak Pernah Jatuh Cinta?

Aku pernah jatuh cinta. Menurutku mencintai lawan jenis itu lumrah dan manusia. Kalau kita mau mendengar istilah versi Allah, inilah salah satu contoh dari ”Sunnatullah”. Mau dengar ceritanya? Hmm..Begini ceritanya….

Waktu itu aku masih di semester tengah perkuliahan. Rutinitasku kala itu adalah mengunjungi laboratorium komputer saat waktu luang. Seperti biasa, pertama kali yang kubuka adalah kotak masuk elektronikku. Kemudian aku tertarik membuka file power point yang dikirim oleh seorang sahabat. Di dalamnya ada sebuah potret keluarga sakinah. Anak-anak dalam foto itu masih kecil-kecil. Entah mengapa aku tertarik pada bocah berkacamata itu. Selain lucu, pada umur 7 tahun dia sudah mampu menghafal Al-Quran. Setelah kubaca lebih jauh, ternyata bocah kecil ini sekarang sudah dewasa dan menjadi salah satu mahasiswa di sebuah universitas negeri ternama di Bandung. Kau tahu apa yang kupikirkan saat itu? ”Andaikan aku menjadi istrinya…” Begitulah, lucu memang. Sekedar melihat foto masa kecilnya sudah membuatku tertarik.

Suatu saat aku kembali teringat padanya. Karena penasaran aku segera googling, barangkali profilnya dapat kutemukan di dunia maya. Kukorek-korek keterangan dari image. Tetapi nihil. Hanya ada salah satu karyanya di sana, dan segudang prestasinya yang dirangkum oleh orang lain. Ah, sia-sia saja pikirku. Kuputuskan untuk menyerah.

Setiap bulan aku selalu berlangganan majalah Annida. Entah waktu itu Bulan Juni atau Juli, aku tak terlalu ingat. Seingatku waktu itu, aku sedang disibukkan oleh deadline penelitian skripsi. Annida yang kudapat dari seorang teman kubiarkan saja di meja laboratorium. Kemudian aku mengikuti kuliah di siang harinya, dan kubawa saja majalah itu ke ruang kuliah. Saat mata kuliah itu mulai membuatku bosan, kubuka-buka majalah itu. Dan aku mulai beraksi saat kulihat ada nama, foto, dan profilnya di sana. Subhanallah! Kau tahu apa yang kurasakan? Jantungku berdetak kencang sekali.

Aku menoleh ke samping, ada sahabatku di sana dan kuceritakan semuanya. Akhwat itu hanya tersenyum. Selepas kuliah, aku kembali ke laboratorium tempatku mengerjakan penelitian. Suasana laboratorium itu sangat ramai, ada beberapa mahasiswa di sana. Dan berita itu pun segera menyebar ke seantero penghuni laboratorium dari seorang kawan yang jahil. Kemudian seorang teman mengolok-olokku:

”Anak ini? Nggak cakep gini loh…”. Kata seorang kawan. Seorang ikhwan menimpali ”Memang waktu kecil dia hafidz, tapi belum tentu sekarang masih hafidz”. Ujarnya, sambil tertawa. Aku malu sekali waktu itu.

Anehnya, aku tidak selalu ingat padanya. Tidak seperti kawan-kawan lain yang jatuh cinta. Selepas kejadian itu, aku tak lagi ingin membahasnya. Sampai aku lulus dan tibalah bulan Ramadhan. Aku menghabiskan Bulan Ramadhan di rumah. Setiap sore, sambil membantu ibu menyiapkan bahan untuk dimasak, aku menonton televisi. Ada acara Ramadhan yang sangat menarik di salah satu stasiun TV. Dan, MasyaAllah! Ada dia di TV. Saat itu acara ini sedang mengupas profilnya, yang menurut tujuan penayangannya, dia adalah salah satu inspirasi bagi remaja muslim. Akhirnya, tahulah aku tentangnya, tentang keluarganya, tentang aktivitasnya. Satu lagi, dia masih hafidz Al-Quran. Selain itu ia juga menjadi imam shalat malam di salah satu masjid di daerahnya. Hmmm, terbayang lagi impianku yang dulu. Kucoba membandingkan dirinya dengan diriku sendiri. Mendadak kuingat pesan temanku:

”Tak perlu mengharap Muhammad, jika diri tak sesabar Khatidjah, Tak perlu menunggu Ali, jika diri tak secerdas Fatimah”.

Ya, akhirnya aku sadar diri juga. Cinta itu berubah menjadi kasih sayang kepada sesama hamba Allah, dan harapan agar diri ini menjadi lebih baik karena belajar dari indahnya sikapnya. Terima kasih Allah, memberiku kesempatan untuk mengetahui bahwa dia ada, mengijinkanku mencintainya, dan mengajariku hikmahnya.

-Untuk makhluq Allah yang mencintai sesamanya karena Allah SWT-

Kubahagia-Sherina (Ost Laskar Pelangi)

Kita bermain-bermain
Siang-siang hari senin
Tertawa satu sama lain
Semua bahagia, semua bahagia

Kita berangan-angan
Merangkai masa depan
Di bawah kerindangan dahan
Semua bahagia, semua bahagia

Matahari
Seakan tersenyum
Walau makan susah, walau hidup susah, walau tuk senyum pun susah
Rasa syukur ini karena bersamamu juga susah dilupakan
Walau makan susah, walau hidup susah, walau tuk senyum pun susah
Rasa syukur ini karena bersamamu juga susah dilupakan
Oh kubahagia
Oh kubahagia

Kita berlari-lari bersama mengejar mimpi
Tak ada kata tuk berhenti
Semua bahagia, semua bahagia

Matahari
Seakan tersenyum
Oh…
Walau makan susah, walau hidup susah, walau tuk senyum pun susah
Rasa syukur ini karena bersamamu juga susah dilupakan
Walau makan susah, walau hidup susah, walau tuk senyum pun susah
Rasa syukur ini karena bersamamu juga susah dilupakan
Oh kubahagia
Oh kubahagia

(aku rindu Sherina kecil dan mimpi masa lampau)

Allah SWT, Cinta, dan Takdir

Mencintai Allah, berarti mencintai Rasulullah SAW, orang tuamu, saudara-saudaramu, gurumu, suamimu, istrimu, anak-anakmu, sahabat-sahabatmu, dan seluruh semesta beserta isinya.

Mencintai Allah adalah berbuat tanpa mengharap pujian dari sekelilingmu, memberi tanpa mengharap kembali, mengasihi tanpa berharap dikasihi.

Mencintai Allah adalah percaya kepada takdir-Nya. Berbaik sangka pada-Nya.

Mencintai Allah adalah mengusahakan segalanya dengan sungguh-sungguh sampai kau menyingkap takdirmu sendiri, meskipun kau tak pernah tahu apa dan dimana.

Mencintai Allah adalah berlari, berjuang, menerjang, berkorban sampai titik akhirmu. Sampai kau tak dapat lagi berlari. Sampai kau tak sanggup berjuang. Sampai kau tak kuasa lagi menerjang badai. Sampai kau tak punya apa-apa lagi untuk kau korbankan.

Bahkan pengorbanan yang kau lakukan pun adalah untuk dirimu sendiri. Kemudian kau meminta pada Allah untuk memudahkan pengorbananmu dan mengabulkan pintamu. Tetapi Allah tak pernah bosan memberimu, tak pernah mengharap kau membalas pemberian-Nya.

Tidakkah Kau heran? Di sudut dunia sana masih ada orang yang tak mau berkorban untuk dirinya sendiri. Apalagi untuk orang lain. Dan kurasa dia tidak mencintai Allah. Padahal Allah menyuruhnya berbuat, hanya sekedar berbuat seperti Ibunda Hajar yang berlari antara Shafa dan Marwah mencari mata air untuk anak tercinta Ismail a.s. Hanya itu usahanya. Beliau tak pernah tahu apakah akan segera menemukan air. Tetapi Allah memberinya hadiah mengagumkan, sebuah sumber mata air (zam-zam) yang memancar justru dari kaki kecil Ismail a.s dan membuatnya menangis bahagia.

Dan bahagialah dia yang mencintai Allah. Karena Allah SWT adalah Sumber Cinta dan Kasih Sayang yang tak pernah habis. Allah tak pernah membuatmu kecewa dan lara. Allah akan selalu ada mengawasimu, memperhatikan setiap gerak langkahmu, meneliti setiap desah nafasmu. Lalu, adakah cinta lain yang seindah cinta-Nya?

Wina Savitri
-untuk semua yang kucintai karena Allah SWT-